Senin, 29 Oktober 2012

Tradisi ?… Ah Kuno …. !

Daretan

Bahwa tidak semua tradisi dan adat bisa dimengerti dengan pendekatan teori yang lebih mengedepankan otak dan akal. Ada satu pendekatan pemaknaan yang dibarengi dengan keikhlasan hati untuk dapat mengerti atas keberadaan fenomena tradisi dan adat itu sendiri ; laksana keikhlasan hati kita menerima kehadiran matahari pagi di ufuk timur, tanpa harus mendebat dan menggugatnya kenapa ia terbit di ufuk sana di saat manusia terlelap di peraduannya ;
1.Keberadaan Pura Bebotoh ; ia laksana keberadaan Duryodana pada cerita Mahabarata. Duryodana ditampilkan bukannya agar semua tingkahlakunya kita tiru dalam arung kehidupan ini. Tapi ia lebih dimaknai bahwa manusia diharap lebih mawas diri dalam kehidupan ini untuk tidak terperangkap keangkaramurkaan dan haus kekuasaan. Begitu juga dengan Pura Bebotoh, keberadaannya bermakna seolah bercerita kepada kita yang awam bahwa bebotoh dan momotoh hanya akan menyesengsarakan hidup manusia dalam berbagai tataran. Bahwa cerita Manik Angkeran dalam folklore lainnya memiliki kemiripan misi yang mengharapkan kita secara bijaksana mengelola momo (kama) itu berdasarkan Darma.

2.Jika ada orang-orang baik yang berkenan menulis tentang adat dan tradisi Bugbug, saya ayunkan salute untuk itu. Jika ia berkaitan dengan Buana Alit, awalilah ia sejak kita masih dalam kandungan, magpag, ngekehin, nelubulanin, ngotonan, mapinton, nganten, mesih, mesaluk, padem, ngaben, ngerorasin, ngusaba kelod, ngepitu dan sebagainya. Bila ia berhubungan dengan Desa Adat sebagai otoritas pengelola pelaksanaan upacara adat di Pura-pura di Bugbug, melangkahlah sejak sasih kasa, karo, katiga dan seterusnya yang mana sebagian besar pelaksanaan upacara itu berdasarkan perhitungan sasih. Terkait dengan sejarah pura-pura baik itu berdasarkan sastra tertulis maupun tastran widi lainnya.
3.Akankah kita terbawa arus jargon demi perubahan dan anti perubahan, mengikuti jaman, ahh .. tradisi itu sudah kuno ! sehingga tradisi yang sudah berjalan harus kita rubah sesuai keinginan jaman ? Jangan-jangan tradisi ngambeng dan mundut jempana, mabiasa akan hilang seiring pengaruh perubahan, hanya karena melihat warga Desa Kerobokan Kuta, Badung memasang gerobak beroda untuk mundut jempana. Jangan-jangan tradisi mesuaka, ngundang, mapitau, mapisadu, ngendek nuhur pemangku, sebagai pranata sosial penjabaran Trihita Karana terhapuskan oleh kecanggihan teknologi handyphone, 3G, Facebook, e-mail pada jaman ini. Jangan-jangan tradisi Tatebahan dan murek harus dihilangkan hanya karena kita tidak ingin mempertontonkan kekerasan dihadapan anak-anak kita yang lagi belia ? Jangan-jangan tradisi mepinton dengan babi guling dan penggunaan hewan lainnya sebagai sarana upacara harus dihapus hanya karena desakan komunitas penyayang binatang; hanya karena harapan untuk tidak menjadikan perut ini sebagai kuburan binatang ?  Memang iya, perlu dilakukan pengkajian lebih mendalam terhadap tradisi megibung dengan lawar dan kelengkapannya yang pada beberapa kejadian kerap dianggap sebagai pemborosan dan pengaruh tidak baiknya terhadap kesehatan.  Misalnya daripada sisa makanan terbuang percuma hanya disisakan untuk makanan ternak, mengapa tidak sejak awal perhitungannya lebih dimatangkan, sehingga kelebihannya mungkin akan lebih baik dipuniakan kepada banjar adat untuk selanjutnya disalurkan kepada pendidikan anak-anak yang kurang mampu atau bagi lanjut usia.
3.Tatebahan dan Daretan ; tidak banyak yang berusaha mencari makna akan tradisi ini, malah menggugat dengan kata “aah anda mencari pembenaran saja …”. Bahwa setiap manusia dalam dirinya ada rwa bineda, iya, tidak ada yang bisa membantahnya. Bahwa setiap orang punya naluri kekerasan dan kelembutan, iya, para psikologpun tidak menafikkannya. Tatebahan sebagai sebuah tradisi dapatlah dimaknai sebagai ; agama melalui tradisinya memberikan jalan penyaluran naluri kekerasan dalam nuansa kesucian upacara dengan harapan setelah semua itu tersalurkan, diri ini kembali bersih kalau tidak mau mengatakannya suci, untuk selanjutnya kita arahkan energi bersih ini dalam aplikasi-aplikasi positif di kehidupan setiap harinya.
4.Bahwa Tradisi adalah highway dengan berbagai rambu yang disiapkan oleh para tetua, sebagai jalan lempang untuk mencapai tujuan-tujuan agama yang sebenarnya masih berupa teori di awang-awang. Rambu-rambu dan larangan-larangannya yang terpasang sepanjang highway tradisi itu bukanlah penghambat kebebasan jiwa kita dalam menuju ujung jalannya, ia adalah penyelamat dan pemandu serta penuntun kita untuk mencapai jagadhita … Tradisi itu dibumikan dari sejak pagi menyapa hingga mentari senja menyergap, dari Sinta ke Watugunung, sejak Redita hingga Saniscara, berawal di sasih Kasa, Karo, Katiga, Kapat hingga Kasada ..
5.Akankah jawaban gugon tuwon, anak mula keto, kadung tami uli nguni dimaknai sebagai ketidakcerdasan kita sebagai orang tua dalam menjawab berbagai tanya dari adik-adik dan anak kita yang belia ?  Sementara para guru di sekolahpun menerapkan kurikulum yang disesuaikan dengan jenjang umur dan daya tangkap masing-masing. Jika saja semua manusia tahap pemahamannya selevel dengan para guru besar, tentu berbagai kurikulum, berbagai jadwal pelajaran tidaklah dibutuhkan lagi. Para manusia yang tidak punya sepeda motor dan mobil tentu akan memilih berjalan kaki dengan perjalanan yang panjang menapaki jalanan tradisi, akan tetapi kaum yang terlahir memang kaya dengan gaya jetsetnya tentu meletas dengan mobil balapnya atau pesawat jet yang tentu tidak membutuhkan rambu-rambu tetek bengek dan jalanan berliku dan berbatunya tradisi. Setiap manusia tentu berproses sesuai jenjang umurnya.  Tradisi memberikan ruang untuk itu ; Catur Asrama, dari Brahmacari, Grahasta, Biksuka, Wanaprasta. Masing-masing fase kehidupan manusia secara alami akan berproses memaknai berbagai fenomena adat dan tradisi sesuai level intelektualitas dan lingkungannya.
Sekiranya ada kata yang kurang berkenan, mangda prasida ngampurayang.
Dumogi mapikenoh.

0 komentar:

Posting Komentar