Selasa, 30 Oktober 2012

BABAD PASEK GELGEL

SEJARAH KELUARGA PASEK DIAMBIL DALAM BUKU

BABAD PASEK
MAHAGOTRA PASEK SANAK SAPTA RSI

HALAMAN. 163

SEJARAH PEMERINTAHAN
I GUSTI AGUNG PASEK GELGEL
I GUSTI SMARANATHA DAN I GUSTI PASEK GELGEL
DIANGKAT AMANCABHUMI
Raja Çri Gajah Waktra mengangkat I Gusti Bendesa Mas sebagai Amancabhumi selaku penguasa di daerah Mas dan sekitarnya. Pada hari Senin Umanis, wuku Sungsang, musim tanam sasih Karo Tahun Çaka 1257 (Bulan Juli 1335). Juga diangkat keturunan Sang Sapta Rsi lainnya, antara lain I Gusti Smaranathadengan tugas sebagai pengeling (pengawas) Pura Penganggih Batur Desa Gelgel. Sedangkan I Gusti Smaranatha diangkat sebagai amancabhumi dengan abisheka Kyayi Smaranatha. Sedangkan I Gusti Pasek Gelgel diangkat Amancabhumi selaku penguasa daerah berkedudukan di Gelgel bergelas I Gusti Agung Pasek Gelgel, dengan daerah kekuasaannya yaitu Pulau Nusa Penida, Batulahak sampai ke Desa Takmung.
Pada tahun Çaka 156 (tahun 1334 M) di Majapahit terjadi Perubahan dengan diangkatnya Gajah Mada menjadi Maha Patih Hamengkubhumi. Pada suatu pesamuan agung (Rapat Besar) di Majapahit, Maha Patih Hamengkubhumi Kryan Gajah Mada, mengatakan bahwa dia tidak akan beristirahat apabila seluruh nusantara belum dapat disatukan. Kata-kata beliau itulah yang kemudian disebut Sumpah Palapa, yang menimbulkan kesalahpahaman Raja – Raja di seberang lautan termasuk Raja Çri Gajh Waktra. Sumpah palapa ini dianggap sebagai politik ekspansi daerah dan kekuasaan dari Raja Majapahit, sehingga menimbulakan renggangnya hubungan antara Raja Bali dengan Majapahit. Oleh sebab itu Raja Çri Gajah Waktra dijuliki Bedahulu. Julukan itu diberikan karena berbeda pandangan dengan pemerintahan pusat di Majapahit. Hal itu menyebabkan Raja Majapahit menjadi marah dan memerintahkan Maha Patih Hamengkubhumi Kryan Gajah Mada untuk menyerang Kerajaan Bali. Namun pada serangan pertama, kerajaan Bali tidak dapat ditundukkan karena kuatnya benteng pertahanan serta gigihnya rakyat bali mempertahankan setiap jengkal daerah kerajaan Bali. Dan pada tahun Çaka 1265 (tahun 1343 M) untuk kedua kalinya kerajaan bali diserang oleh kerajaan Majapahit, dengan mengerahkan pasukan yang cukup besar yang dipimpin langsung oleh Maha Patih Hamengkubhumi Kryan Gajah Mada dengan dibantu oleh beberapa orang Arya. Dengan tipu muslihat yang digunakan oleh Patih Gajah Mada, akhirnya kerajaan Bali dapat dikalahkan.

Sedangakan Patih Ki Pasung Gerigis dapat ditawan, kemudian ditugaskan untuk menyerang Kerajaan Sumbawa. Sehingga terjadi pertempuran hebat. Di dalam perang tersebut Patih Ki Pasung Gerigis gugur bersama dengan Raja Sumbawa. Kemudian Para Arya yang ditinggalkan di Bali, lalu diberi jabatan untuk memerintah Bali atas jasa-jasanya telah membantu mengalahkan Bali. Mereka antara lain adalah Arya Kuthawaringin ditempatkan di Gelgel, Arya Kenceng di Pucangan (Buahan), Arya Belog (Arya Pudak) di Kaba-Kaba, Arya Dalancang di Kapal, Arya Sentong di Pacung, Kryan Punta di Mambal, Kryan Jeruden di Temukti, Kryan Tumenggung di Petemon, arya Sura Wang Bang dari Lasem di Sukanet, Arya Melel Cengkerong di Jembarana, Arya Pamacekan di Bondalem. Sekianlah para penguasa yang ditempatkan oleh Maha Patih Hamengkubhumi Kryan Gajah Mada.
Sedangakan Maha Patih Kryan Gajah Mada dan sebagian pasukannya kembali ke Majapahit, setelah dijemput oleh Arya Kuda Panolin alias Arya Kuda Pengasih. Kemudian para Arya yang ditempatkan di Bali belum bisa diterima sepenuhnya oleh Rakyat Bali dan mereka masih dendam dan sakit hati akibat peperangan tersebut, dangan kata lain para Arya belum berhasil mengusai Bali, dan rakyat Bali masih mengakui sanak saudara dari Ki Patih Ulung sebagai pemimpin mereka. Dengan demikian daerah Bali masih dalam kondisi Labil, serta kehidupan sehari-hari tidak teratur.
Kemudian Ki Patih Ulung salah seorang keturunan Sang Sapta Rsi dan juga bekas Mantri pada pemerintahan Raja Bali, tidak sampai hati meliahat keadaan Rakyat Bali yang porak poranda akibat perang tersebut. Beliau menyadari bagaimana perasaan Rakyat Bali Aga yang ditinggalkan oleh pemimpin mereka yang sangat dihormati dan disegani yaitu Raja Bali Çri Gajah Waktra yang telah gugur oleh peperangan tersebut. Ditambah lagi tidak mampunya Arya selaku penguasa daerah mengusai situasi daerah Bali, merupaka beban moral bagi Ki Patih Ulung bersama sanak saudaranya.

0 komentar:

Posting Komentar