Minggu, 02 Desember 2012

Hukum Karma Pala Dalam Ajaran Agama Hindu

Dalam kitab suci Bradh Aranyaka Upanisad di katakana : Hukum diartikan sama dengan “ kebenaran “.
Hukum adalah ketentuan – ketentuan atau peraturan – peraturan yang harus diatasi oleh sekelompok manusia, serta memberikan hukuman /ancaman terhadap seseorang yang melanggarnya baik itu berupa hukuman denda baik itu disebut orang dursila (penghianatan) oleh kelompok orang – orang tertentu di dalam masyarakat.
Karma berasal dari bahasa Sansekerta dari urat kata “Kr” yang berarti membuat atau berbuat, maka dapat disimpulkan bahwa karmapala berarti Perbuatan atau tingkah laku.
Phala yang berarti buah atau hasil.
Maka dapat disimpulkan Hukum Karma Phala berarti : Suatu peraturan atau hukuman dari hasil dalam suatu perbuatan.

Salah satu dari Panca Srada ( Enam Kepercayaan Agama Hindu) di antaranya adalah hokum karma phala dimana hukum karma phala ini merupakan filsafat yang yang mengandung etika yang artinya Bahwa Umat Agama Hindu percaya akan hasil dalam suatu perbuatan. Dalam Sarasamuscaya seloka 17 disebutkan :
Segala orang, baik golongan rendah, menengah, atau tinggi, selama kerja menjadi kesenangan hatinya, niscaya tercapailah sgala yang diusahakan akan memperolehnya.”
Hukum Karma Phala adalah hukum sebab – akibat, Hukum aksi reaksi, hukum usahan dan hasil atau nasib. Hukum ini berlaku untuk alam semesta, binatang, tumbuh – tumbuhan dan manusia. Jika hukum itu ditunjukan kepada manusia maka di sebut dengan hukum karma dan jika kepada alam semesta disebut hukum Rta . Hukum inilah yang mengatur kelangsungan hidup, gerak serta perputaran alam semesta.
Dalam Kekawin Ramayana Sargah 1 bait nomor 4 :
“Nafsu dan lain sebagainya (Sad Ripu) adalah musuh yang terdekat, di dalam hati letaknya tidak jauh dari badan, Hal itu tidak ada pada Bliau, hanya keberanian dan kebijaksanaan serta pengetahuan politik yang beliau miliki”.
Apa yang kamu tanam maka itulah yang akan kamu tuai”, Sesungguhnya tafsiran tersebut tidak sepenuhnya betul. Didalam Agama Hindu perhitungan karma itu tidak di dasarkan pada pisik, karena semua yang bersifat pisik merupakan bersifat Maya. Misalkan Orang sedih dia menangis, orang tertawa juga menangis, mengeluarkan air mata yang sama dari mata yang sama, tetapi perasaan yang terkandung di dalam hatinya berbeda. Hukum Karma mengatakan bahwa semua pikiran, perkataan, dan perkataan yang tidak baik melahirkan penderitaan.
# Ada tiga jenis karma yaitu :
  • Prarabda karma yaitu perbuatan yang dilakukan pada waktu hidup sekarang dan diterima dalam hidup sekarang juga.
  • Kriyamana karma yaitu perbuatan yang dilakukan sekarang di dunia ini tetapi hasilnya akan diterima setelah mati di alam baka.
  • Sancita karma yaitu perbuatan yang dilakukan sekarang hasilnya akan di peroleh pada kelahiran yang akan dating.
# Sifat – Sifat Hukum Karama :
  • Hukum karma itu bersifat abadi : Maksudnya sudah ada sejak mulai penciptaan alam semesta ini dan tetap berlaku sampai alam semesta ini mengalami pralaya (kiamat).
  • Hukum karma bersifat universal : Artinya berlaku bukan untuk manusia tetapi juga untuk mahluk – mahluk seisi alam semesta.
  • Hukum karma berlaku sejak jaman pertama penciptaan, jaman sekarang, jaman yang akan dating.
  • Hukum karma itu sangat sempurna, adil, tidak, ada yang dapat menghindarinya.
  • Hukum karma tidak ada pengecualuan terhadap suapapun, bahkan bagi Sri Rama yang sebagai titisan Wisnu tidak mau merubah adanya keberadaan hokum karma itu.
     
    KARMA Dalam Pandangan Hindu dan Buddha          
    Karma
    Dalam Pandangan Hindu dan Buddha
    Oleh :  IB. Candrawan, M.Ag., IHDN Denpasar
    Dalam konsep ajaran Agama Buddha istilah karma sangatlah banyak dipergunakan dan keberadaannya sangat lekat dengan kehidupan umat. Demikian juga dalam pandangan Agama Hindu yang sesungguhnya sangat banyak memiliki kemiripan konsep dan ajaran dengan agama Buddha itu sendiri, terlebih lagi sama-sama disebut sebagai visdom religion yang berkembang di daratan India.

    Namun secara konseptual istilah karma adalah sangat sederhana dimana karma dapat dikatakan sebagai “tindakan” atau karma juga dikatakan sebagai “perbuatan” dalam hal ini terdapat tiga cara dilakukannya karma tersebut yaitu dengan pikiran, perkataan dan tubuh. Dalam konsep dan pandangan Agama Hindu bahwa karma tersebut juga adalah perbuatan yang dalam kitab Smerti Bhagawad Gita Bab III Sloka 4 dikatakan : Tanpa keija orang takkan mencapai kebebasan, demikian juga ia tidak mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja.

    Dalam Bhagawad Gita juga dikatakan bahwa Karma tersebut berasal dan yang maha abadi yaitu Brahman sebagaimana dalam Bab III - Sloka 15 dikatakan : Ketahuilah, adanya karma adalah karena Brahman yang ada dan Yang Maha Abadi, karena itu Brahman yang melingkupi semuanya ini selalu berkisar disekitar persembahan. Sangat jelas sekali dalam pandangan Hindu bahwa karma tersebut ada atas dasar kehendak dan Brahman sebagai sebab yang tak tersebabkan, akan sedikit berbeda dengan konsep dalam ajaran Budhisme bahwa karma tersebut memang manusialah yang sedemikian berbuat sehingga terikat atas kelahiran kembali dalam hidupnya.

    Pada sumber lain dikatakan bahwa Pengertian karma (kamma) dalam agama Budha adalah perbuatan baik dan jahat yang dilakukan oleh seseorang melalui jasmani, ucapan dan pikiran yang disertai dengan Cetana (kehendak atau niat). Menurut pandangan Budhis, sesuatu perbuatan tanpa disertai kehendak tidak dapat disebut kamma atau karma itu sendiri, karena perbuatan itu tak dapat memberikan akibat moral apapun pada pelakunya.
    Demikian dalam kitab Anguttara Nikaya Dikatakan bahwa Kamma adalah : “para bhikku, kehendak yang kusebut kamma, setelah kehendak muncul, maka seseorang melakukan perbuatan melalui jasmani, ucapan dan pikiran”. Ajaran Agama Hindu sendiri menjelaskan karma tersebut adalah juga berasal dan tiga sumber utama yaitu pikiran, perkataan dan perbuatan manusia hanya saja sadar ataupun tidak perbuatan tersebut dilakukan maka tetap akan berpahala. Sudah barang tentu besar kecilnya pahala tersebut akan ditentukan oleh berbagai faktor. Seorang tokoh agama bisa saja membelanjakan uang haram, yang sesungguhnya merugikan orang lain akan tetapi karena tidak tahuannya tentu akan menjadi lain, akan sangat berbeda sekali seorang penegak hukum yang sudah barang tentu tugasnya menegakkan ketegakan hukum kemudian sengaja menyelewengkan hukum itu akan menjadi amat besar dosa dan kekeliruan yang diperbuatnya.

    Dalam sumber lain dikatakan bahwa: Hukum karma adalah salah satu ajaran atau prinsip terpenting dalam filsafat India. Kata karma berasal dan kata Kr.dhatu dalam bahasa Sansekerta yang bermakna melakukan sesuatu. Karma bukanlah prinsip mekanis tetapi merupakan sebuah kebutuhan spiritual.

    Pernyataan bahwa karma tidak semata-mata, maka dikatakanlah bahwa manusia sendiri adalah pencipta masa depannya sendiri. Menurut Sri Aurobindo bahwa kelahiran kembali adalah tidak akan bermakna tanpa karma, dan karma tidak akan mempunyai makna tanpa kelahiran kembali. Jika kita percaya bahwa jiwa secara berulang dilahirkan kembali kedalam tubuh, kita juga harus percaya bahwa ada mata rantai antara kehidupan yang mendahuluinya dan kehidupan yang mengikutinya.

    Dalam berbagai gagasan dan pandangan maka agama Hindu dan Buddha dapat memberikan pandangan tentang Karma tersebut secara mendalam, namun bila dikaji kenapa sesungguhnya ada karma dan apa sesungguhnya kaitan antara karma dengan kelahiran kembali tersebut dapat diuraikan dalam penjelasan berikut ini.

    Agama Buddha memiliki konsep adanya kelahiran kembali sebagai akibat bekerjanya karma dalam kehidupan manusia sebagai hukum alam semesta. konsep kelahiran kembali sangat perlu dibahas mengingat konsep karma akan bersentuhan erat dengan karma tersebut. Kelahiran kembali dalam pandangan Buddha dikatakan sebagai Punarbhava, berasal dan kata Puna yang artinya lagi dan bhava yang artinya jadi atau menjadi. Jadi Punarbhava adalah menjadi lagi.

    Dalam pandangan agama Hindu bahwa kelahiran kembali tersebut adalah sebagai bagian dan konsepsi mendasar dalam agama Hindu yang disebut dengan Panca Sraddha. Panca berarti lima dan Sraddha berarti keyakinan, jadi panca Sraddha adalah lima dasar keyakinan bagi umat Hindu. Adapun kelimat bagian tersebutsalah satunya adalah karma dan kelahiran kembali secara lengkap dapat diuraikan sebagai berikut : Percaya adanya hukum Karma Phala, Percaya adanya Punarbhawa/kelahiran kembali dan terakhir adanya Moksha, sebagai tujuan tertinggi dalam ajaran dan konsep Hindu.

    Dengan demikian ajaran Hinduisme menjelaskan konsep Punarbhawa yang juga berarti kelahiran kembali, kelahiran kembali diyakini sebagai bagian dan proses bekerjanya Hukum Karma tersebut. Seseorang yang masih sangat terikat dengan kehidupan keduniawian diadakan senantiasa terlahir kembali dan akan menjelma kedunia ini sampai dirinya terbebas dan ikatan karma dan mendapatkan kebebasan yang disebut dengan Moksha “Moksartham Jagadhita Ya ca iti dharmah”.

    Lalu dapat dijelaskan disini bahwa keberadaan adanya Hukum karma baik dalam Hinduisme maupun dalam ajaran Buddha adalah dimotivasi akan tercapainya suatu hasil. Pikiranlah sebagai pemicu adanya karma-karma lainnya dalam diri manusia. Atas dasar pemikiran tersebut maka kiranya dapat dikatakan bahwa konsep karma tersebut dengan segala hukum-hukumnya dan termasuk dengan ancaman akan sebab dan akibat yang dijabarkan dalam ajaran agama tersebut sesungguhnya adalah dalam kerangka mengeleminir aktivitas dan perbuatan manusia yang bersebrangan dan ajaran kebenaran Dhama dalam pandangan Buddhis dan ajaran Dharma dalam ajaran Hindu.

    Seperti dalam satu sumber dikatakan bahwa seseorang dapat terlahir tuli bisu dan buta, dikatakan bahwa hal tersebut adalah sebagai akibat dan karma tak bajik yang terwujud atau menampakkan din dalam kesadarannya pada momen terakhir sebelum kematiannya. Seperti juga dikatakan Shri Krishna pada Arjuna sebagaimana termuat dalam Kitab Bhagawad Gita bahwa : Demikianlah sebab teijadinya perputaran roda, dan ia yang tak ikut dalam perputarannya ia berbuat jahat, selalu berusaha memenuhi nafsu indrianya, sesungguhnya ia hidup dalam sia-sia; wahai Partha.

    Sangatlah jelas penjabaran dan konsep karma dan terkait juga dengan akibat dan hukum yang mengikutinya sehingga manusia dalam kehidupannya hendaklah tidak berhenti untuk beraktivitas atau berbuat baik dan benar, dengan kata lain berbuat Subha karma.
    Atau berkarma yang baik di dunia ini. Manusia dengan segala kemauan dan pikirannya dapat saja menghindar dan konsep tersebut namun hukum karma tetap akan mengikutinya karena sang dinilah yang akan mencatat baik dan buruk karma yang diperbuatnya tersebut.
    Karma sebagai cikal bakalnya kehidupan Dalam ajaran Agama Buddha bahwa karena karmalah seseorang akan menjelma ke dalam dunia ini adapun kelahiran seseorang kedalam dunia yang fana ini, ada beberapa jalan yang disebut dengan Tumimbal lahir antara lain:
    1. Jalabuja-Yoni : Makhluk yang lahir dan kandungan, seperti manusia, kuda, kerbau dan yang lainnya.
    2. Andaja-Yoni: Makhluk yang lahir dan telur, seperti burung, ayam, bebek dan yang lainnya.
    3. Sansedaja-Yoni : Makhluk yang lahir dan kelembaban, seperti nyamuk, ikan dan lain-lain. Dan;
    4. Oppatika-Yoni : yaitu makhluk yang lahir secara spontan, langsung membesar seperti pada Dewa Brahma, mahluk Neraka dan lain lainnya.
    Keempat uraian cara kelahiran adanya kehidupan di dunia ini akan sedikit berbeda dengan konsep dalam ajaran agama Hindu, karena dalam pandangan Agama Hindu kelahiran sebagai bagian dan proses tumimbal lahir tersebut adalah disebabkan atas tiga jenis karma sebagai bagian dan Karma Wasana dan manusia Yaitu:
    - Sancitta Karma Phala adalah karma-karma terdahulu yang sekarang baru hasilnya dapat dinikmati dalam kehidupan ini. Penjelasan secara lebih jauh adalah dengan melihat beragam fenomena ketika saat sekarang kita melihat seorang yang
    dalam kehidupannya sangat ulet dan bekerja keras, berbhakti dan taat
    pada ajaran agama, berjiwa sosial. Akan tetapi kehidupannya sangatlah menderita, selalu terkena musibah dan yang lainnya. Lalu dimanakah keadilan Tuhan dan kenapa hal tersebut dapat terjadi. Dengan berbekal pada konsep karma tadi
    kejadian tersebut dapat dijabarkan secara lebih lanjut.
    - Pralabda Karma Phala; dalam pandangan Hindu karma ini adalah
    karma yang diperbuat saat sekarang dan hasilnya pun akan dapat dinikmati pada masa sekarang ini, dapat diibaratkan seperti seseorang sedang memakan sebuah biji cabae, maka ketika dirinya memakan cabe tersebut dia akan merasakan betapa pedasnya buah cabe tersebut.
    - Demikian juga seseorang yang berbuat baik akan mendapat perlakuan baik dari lingkungan dan orang lain yang berbuat jahat akan menerima perlakuan tidak baik pula dari orang lain di sekelilingnya.
    - Terakhir adalah Kriamana karmaphala, dalam hal ini kriamana dapat diartikan sebagai karma yang tidak akan dapat kita nikmati pada kehidupan saat ini, akan tetapi hasilnya akan dapat dipetik pada reinkarnasi dan penjelamaan di masa mendatang. Dengan demikian seseorang pada kehidupan sekarang akan termotivasi untuk senantiasa berbuat baik dan selalu berbuat benar, demi kebaikannya pada kehidupan mendatang.

    Secara logis dan dengan akal sehat dapat dijelaskan bahwa sesungguhnya kita tidak atas orientasi itu saja kita akan berbuat baik dan benar, akan tetapi lebih dari itu karena kitab meyakini akan konsep yang digariskan oleh Brahman dalam ajaran agamanya bahwa manusia hendaklah senantiasa berbuat yang baik dan senantiasa berpegang pada kebenaran.
    Disinilah kemudian ada penjelasan kepada manusia senantiasa berpegang pada perbuatan baik atau subbha karma dan jangan sampai terjatuh pada asubha karma tersebut. Subha dan Asubha karma tersebut akan senantiasa terjadi dalam proses kehidupan manusia ini. Semakin dekat diri manusia dengan kehendak dan ahamkara dalam dirinya maka dirinya akan semakin dekat dengan perbuatan jahat/asubha karma. Sedangkan bila dirinya senantiasa berbuat baik senantiasa berpegang pada kaidah agama inilah sebagai cerminan perilaku berpegang pada dharma.

    Dalam kitab Sarasamuccaya sloka 17 dikatakan:
    Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya; lagi pula dharma itu merupakan perlindungan orang berilmu; tugasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa triloka atau jagat tiga itu. Sloka 19 juga menguraikan bahwa : Adalah orang yang tidak bimbang, bahkan budinya tetap .teguh untuk mengikuti jalan pelaksanaan. dharma; orang itulah sangat bahagia, kata orang yang berilmu, tidak akan menyebabkan kaum kerabat dan handaitaulannya bersedih hati meski ia sampai berkelana meminta-minta sedekah untuk menyambung hidupnya.

    Demikian besar hakekat dharma dalam kehidupan manusia sehingga janganlah sampai kehidupan ini terjerembab pada lembah dukha nestapa yang sangat jauh dan kebenaran itu sendiri, perilaku subha karma adalah tawaran yang sangat pantas untuk mencapai kebahagiaan dan bahkan nirvana atau juga tercapainya Moksha.

    Apa yang akan ditimbulkan pada perilaku Subha karma tersebut? Sudah sangat jelas bahwa perbuatan baik kan berpahala baik dalam hidup manusia, baik itu atas karma Pikiran, perbuatan dan perkataan di dunia ini. Bahkan dalam pandangan ajaran Hindu sadar ataupun tidak sadar sekalipun seseorang apabila sudah berbuat akan mendapatkan hasilnya.
    Dalam Pandangan Buddhisme dikatakan bahwa suatu tindakan (karma) secara moral bersifat tak bajik jika dimotivasi oleh bentuk-bentuk nafsu keinginan yang dihubungkan dengan keserakahan, kebencian, dan kebodohan bathin (lobha, dosa, moha). Sedangkan suatu tindakan secara moral bersifat bajik (dalam bahasa biasa, baik) jika dimotivasi oleh factor-factor sebaliknya yaitu ketidak tertarikan (tanpa keserakahan), kasih sayang dan kebijaksanaan.
    Kelahiran Sorga atau disebut Sorga cyuta adalah ciri-ciri kelahiran sorga sebagai akibat dan perbuatan subha karma tersebut. Salah satu ciri-ciri kelahiran sorga tersebut adalah adanya kemudahan-kemudahan hidup, penlaku yang budiman, pemurah dan senantiasa berpikir baik dalam hidup.

    Disisi lainnya terdapat akibat kelahiran dan neraka atau neraka cyuta, adalah ciri kelahiran dengan kesedihan, penderitaan panjang dan senantiasa adanya kesusahan kemalangan dalam kehidupannya di dunia ini. Hasil dari kehidupan saat ini bukanlah kuasa manusia sendiri akan tetapi juga atas pengaruh karma-karma dimasa lalu ketika menjalani kehidupan dimasa sebelumnya.
    Ancaman hukum karma yang lainnya adalah dalarn pandangan Hindu adalah menjelma tidak lagi sebagai manusia, melainkan akibat dosa yang teramat dalam mengakibatkan kelahiran terburuk menjadi ular, dan bahkan menjadi tumbuh-tumbuhan. Dalam Sarasamuccaya dikatakan bahwa hanya menjadi manusialah kehidupan ini akan dapat memperbaiki diri di dunia ini: Dikatakan : diantara semua mahluk, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat, melaksanakan perbuatan baik maupun buruk, leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikian gunanya (pahalanya) menjadi manusia,
    Bila diibaratkan adalah layaknya seperti sesendok garam dalam sebuah gelas. Jika garam tersebut adalah dosa dari karma buruk manusia, maka hanya dengan berbuat baik jika berbuat baik diibaratkan seperti air, semakin banyak yang kita tuang maka rasa asinnya garam akan makin hilang, demikian juga halnya dengan karma manusia, semakin tipislah kemungkinan manusia terkena karma dan perbuatan buruknya. Atau sebaliknya akan menjadi sangat menyakitkan apabila karma buruk terus dipupuk hingga akhirnya gelas akan menjadi penuh oleh dosa manusia. Hal tersebut akan menjadikan manusia tersesat dan lebih dan semua itu adalah bangga karena dosa-dosanya.

    Penyatuan Atman-Brahma
    Sangatlah menarik membedah hakekat akan ajaran dan konsep karma itu. Karena sedemikian itulah perkembangan atau revolusi jiwa manusia dan masa-kemasa dalam menjalani roda tumimbal lahir diantara dua dunia yang berbeda (Skala-Niskala) alam nyata dan yang tidak nyata.

    Sesungguhnya ajaran karma dan segala hukum-hukumnya tersebut adalah sebuah konsep estetika, sebuah ajaran agar umat manusia senantiasa berpegang pada kebajikan dan jalan kebenaran di dunia ini. Ancaman akan kehidupan neraka dan adanya penderitaan merupakan cemeti dan tali kendali dalam kehidupan manusia. Senantiasa ingat atas pesan dan ajaran kebenaran yang diamanatkan oleh ajaran agama tersebut.

    Hukum karma bukänlah sebuah konsep yang mengada-ada dan mengawang-awang, akan tetapi adalah sebuah gambaran yang realistis dalam mengarahkan kehidupan umat manusia senantiasa saling mengasihi sesamanya dan juga menjaga alam dan komunikasinya di mana ia berada:

    Selagi seseorang masih dipengaruhi oleh adanya karma wasana atau dengan kata lain terikat dengan karma baik dan buruk di dunia ini, maka dirinya belum akan memperoleh nirvana atau enlighment tersebut. Atau juga belum akan memperoleh Moksha sebagai penyatuan antara Atman dengan Brahman. Sehingga disinilah sebagai tantangan bagi setiap umat agar senantiasa berpegang dengan ajaran kebenaran dan kebajikan agar hidupnya perlahan-lahan dapat keluar dan proses kelahiran kembali atau punarbhawa tersebut.•WHD No.458 Maret 2005.

0 komentar:

Poskan Komentar