Dalam lontar Sundarigama berbunyi seperti ini:"....manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata.". Sementara Melasti dalam ajaran
Tampilkan postingan dengan label YADNYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YADNYA. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Maret 2013
Upacara Melasti Sebelum Hari Raya Nyepi
Selasa, 15 Januari 2013
Brata Siwa Ratri
Umat Hindu mempunyai banyak hari raya seperti hari raya Galungan, Kuningan, Saraswati, Banyu Pinaruh, Pagerwesi, Nyepi dan Siwa Ratri, dimana setiap hari raya mempunyai makna tersendiri.
Di Bali hari raya Galungan paling meriah dirayakan oleh umat Hindu, merupakan hari besar yang penuh suka cita dan sangat semarak dengan memasang penjor disetiap rumah. Apabila hari raya Galungan merupakan hari raya kemenangan Dharma melawan Adharma, maka Siwa Ratri adalah sebagai wahana pengendalian diri untuk penebusan dosa.
Barong, Simbol Roh Suci yang Tetap Dikeramatkan
Barong, Simbol Mengatasi Wabah
Visnave paalakaa sthitam.
Rudretve sanharas ceva
Tri Murthi naama evaca.
(Bhuwana Kosa. III.78).
Maksudnya:
Batara Siwa menciptakan alam ini dengan wujud Dewa Brahma, dengan wujud Dewa Wisnu menjaga alam ini. Dengan wujud Dewa Rudra beliau mempralina alam ini. Itulah Dewa Tri Murti, tiga wujud itu hanya beda nama.
DALAM ajaran Hindu, Tuhan itu esa hal ini dinyatakan dalam kitab Rgveda maupun kitab-kitab Sastra Hindu lainnya. Tuhan Yang Mahaesa itu memiliki kemahakuasaan yang tiada terbatas. Manusia hanya terbatas kemampuannya memahami kemahakuasaan Tuhan yang tiada terbatas itu.
Selasa, 01 Januari 2013
Upacara Yadnya – dalam kehidupan masyarakat Bali
Upacara Panca Yadnya – dalam kehidupan masyarakat Bali Hindu
Sejarah menyatakan, bahwa pada
jaman dahulu kala di wilayah Nusantara Indonesia telah berdiri
Kerajaan-Kerajaan Besar seperti salah satu di antaranya adalah Kerajaan
Majapahit yaitu sebuah Kerajaan penganut Agama Hindu yang merupakan
Kerajaan terbesar yang bisa menyatukan seluruh wilayahnya sampai ke
Madagaskar.
Pada jaman itu sudah ada hubungan dagang dengan negara Luar Negeri terutama dengan Negeri Campa, yang saat ini Negara Cina.
Minggu, 30 Desember 2012
HAKEKAT YADNYA
Bhagavadgita
III.14 menyatakan bahwa “yadnya berasal dari karma”. Ini berarti bahwa
dalam yadnya perlu adanya kerja, karena dalam yadnya menuntut adanya
perbuatan. Tuhan menciptakan alam beserta isinya diciptakan dengan
yadnya maka patutlah manusia pun melaksanakan yadnya untuk memelihara
kehidupan didunia ini. Tanpa adanya yadnya maka perputaran roda
kehidupan akan berhenti. Yadnya merupakan salah satu wujud dari Tri
Kerangka Agama Hindu yaitu termasuk dalam Upacara/ Ritual. Hal ini
dikarenakan penerapan yadnya dikaitkan dengan Upacara Agama Hindu yaitu
dalam bentuk Ritual.
Kamis, 27 Desember 2012
Makna dan Sejarah Hari Raya Nyepi
Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Dimana pada hari ini umat hindu melakukan amati geni yaitu mengadakan Samadhi pembersihan diri lahir batin. Pembersihan atas segala dosa yang sudah diperbuat selama hidup di dunia dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.
Hari Raya Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang diyakini saat baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa dan dipercayai merupakan hari penyucian para dewa yang berada dipusat samudra yang akan datang kedunia dengan membawa air kehidupan (amarta) untuk kesejahteraan manusia dan umat hindu di dunia.
Makna Hari Raya Nyepi
Nyepi asal dari kata sepi (sunyi, senyap). yang merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan kalender Saka, kira kira dimulai sejak tahun 78 Masehi. Pada Hari Raya Nyepi ini, seluruh umat Hindu di Bali melakukan perenungan diri untuk kembali menjadi manusia manusia yang bersih , suci lahir batin. Oleh karena itu semua aktifitas di Bali ditiadakan, fasilitas umum hanya rumah sakit saja yang buka.
Upacara sebelum hari Nyepi
Ada beberapa upacara yang diadakan sebelum dan sesudah Hari Raya Nyepi , yaitu:
Upacara Melasti
Selang waktu dua tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi, diadakan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis, dihari ini, seluruh perlengkapan persembahyang yang ada di Pura di arak ke tempat tempat yang mengalirkan dan mengandung air seperti laut, danau dan sungai, karena laut, danau dan sungai adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa membersihkan dan menyucikan dari segala kotoran yang ada di dalam diri manusia dan alam.
Upacara Bhuta Yajna
Sebelum hari Raya Nyepi diadakan upacara Bhuta Yajna yaitu upacara yang mempunyai makna pengusiran terhadap roh roh jahat dengan membuat hiasan atau patung yang berbentuk atau menggambarkan buta kala ( Raksasa Jahat ) dalam bahasa bali nya sebut ogoh ogoh, Upacara ini dilakukan di setiap rumah, Banjar, Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi. Upacara ini dilakukan di depan pekarangan , perempatan jalan, alun-alun maupun lapangan,lalu ogoh ogoh yang menggambarakan buta kala ini yang diusung dan di arak secara beramai ramai oleh masyarakat dengan membawa obor di iringi tetabuhan dari kampung kekampung, upacara ini kira kira mulai di laksanakan dari petang hari jam enam sore sampai paling lambat jam dua belas malam, setelah upacara ini selesai ogoh ogoh tersebut di bakar, ini semua bermakna bahwa seluruh roh roh jahat yang ada sudah diusir dan dimusnahkan Saat hari raya Nyepi, seluruh umat Hindu yang ada di bali wajibkan melakukan catur brata penyepian.
Ada empat catur brata yang menjadi larangan dan harus di jalankan :
Amati Geni: Tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.
Amati Karya: Tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.
Amati Lelungan: Tidak berpergian melainkan mawas diri,sejenak merenung diri tentang segala sesuatu yang kita lakukan saat kemarin , hari ini dan akan datang.
Amati Lelanguan: Tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusat.
Pikiran terhadap Sang Hyang Widhi Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” saat fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya, selama (24) jam.
Upacara setelah Nyepi
Upacara Hari Ngembak Geni berlangsung setelah Hari Raya Nyepi berakhirnya ( brata Nyepi ). Pada esok harinya dipergunakan melaksanakan Dharma Shanty, saling berkunjung dan maaf memaafkan sehingga umat hindu khususnya bisa memulai tahun baru Caka dengan hal hal baru yang fositif,baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat, sehingga terbinanya kerukunan dan perdamaian yang abadi Menurut tradisi, pada hari Nyepi ini semua orang tinggal dirumah untuk melakukan puasa, meditasi dan bersembahyang, serta menyimpulkan menilai kualitas pribadi diri sendiri.
Di hari ini pula umat Hindu khususnya mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendekatan rohani yang telah dicapai, dan sudahkah lebih mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini. Seluruh kegiatan upacara upacara tersebut di atas masih terus dilaksanakan, diadakan dan dilestarikan secara turun menurun di seluruh kabupaten kota Bali hingga saat ini dan menjadi salah satu daya tarik adat budaya yang tidak ternilai harganya baik di mata wisatawan domestik maupun manca negara.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa makna Nyepi itu sendiri adalah manusia diajarkan untuk mawas diri, merenung sejenak dengan apa yang telah kita perbuat. Dimasa lalu, saat ini dan merencanakan yang lebih baik dimasa yang akan datang dengan tidak lupa selalu bersykur dengan apa yang telah diberikan oleh sang Pencipta Bagi anda yang sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas yang begitu padat ada baik nya anda meluangkan waktu sejenak keluar dari hiruk pikuk tersebut dan datang ke Bali sekedar introspeksi diri bahwa dalam kehidupan ini mempunyai terkaitan antara satu dan lain nya dan tidak lupa menyaksikan keadaan di Bali saat hari raya Nyepi akan terasa bedanya.

Nyepi adalah sebuah sebuah
konsep Budaya yang dijiwai Agama Hindu yaitu sebagai wujud
keselarasan manusia dengan alam. Hari Raya Nyepi dilaksanakan setiap
tahun sekali yaitu pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa atau sehari
setelah bulan mati (tilem) dalam kalender Bali.
Pada pelaksanaannya,
masing-masih daerah di bali tidaklah sama. Semisal dalam pembuatan
ogoh-ogoh tidak semua desa adat membuat ogoh-ogoh untuk menyambut
hari Raya Nyepi. Namun Makna yang terkandung dalam perayaan nyepi
adalah sama. Yaitu kita melakukan apa yang disebut dengan Catur Brata
Penyepian (Empat jenis Tapa Brata dalam Hari Raya Nyepi)
Yang pertama adalah Amati
Gni.
Amati gni disni adalah
kita yang merayakan nyepi tidak diperbolehkan menyalakan api. Api
disini lebih ditekankan pada api yang ada dalam diri, yaitu api yang
dapat membakar nurani dan pikiran sadar seperti marah atau iri-hati
dan berfikiran tidak baik. Karena kita tahu, penyebab ke tidak
harmonisan dalam hidup disebabkan oleh sifat marah atau iri dengki.
Untuk itu, masyarakat melakukan amati geni dengan wujud tidak
menyalakan api.
Yang kedua adalah Amati
Karya.
Amati Karya artinya
tidak boleh bekerja. Kenapa demikian? Selama setahun penuh kita
menjalani hidup, banyak yang telah dialami yang tentunya akan
menggeser pikiran kita untuk meraih tujuan utama yaitu Tuhan. Lalu
apa hubungannya pikiran dengan amati Karya? Dalam melaksanakan amati
karya ini, kita di tekankan untuk tidak bekerja. Artinya dengan tidak
bekerja maka kita bisa merenung dan mengintospeksi diri atas
kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat selama ini, selain itu
kita diajarkan untuk mengistirahatkan pikiran, agar tahun depan bisa
lebih baik dan bijaksana dalam bertindak.
Satu hal penting yang
tersirat dalam amati karya adalah dengan tidak bekerja selama sehari,
maka alam ini dapat bernafas lega. Alam dapat memproduksi udara segar
untuk kita keesokan harinya.
Yang ketiga adalah amati
Lelungan
Amati Lelungan artinya
kita tidak diperkenankan melakukan perjalanan atau melancong.
Mengapa? Dengan tidak melancong atau bepergian, maka alam akan tenang
dari gangguan hidup manusia yang sehari-hari mengotori bumi pertiwi
ini. Ini adalah suatu permohonan maaf terhadap Bumi karena selama
hidup ini manusia tidak dapat hidup jika tidak merusak alam.
Yang keempat adalah amati
Lelangunan
Amati lelangunan artinya
tidak diperkenankan untuk menghibur diri. Jika manusia larut dalam
hiburan, maka mereka akan lupa tujuan hidup yang utama, yaitu kembali
kepada Tuhan, kembali kepada Sang Hyang Widhi, sang Pencipta.
Jika ditarik kesimpulan
dari keempat tapa Brata Penyepian tersebut adalah, manusia saat hari
nyepi adalah mati suri atau melakukan hibernasi. Ini berdampak sangat
baik bagi alam. Bayangkan, jika sehari saja kita tidak mengeluarkan
polusi, bumi ini sudah berterima kasih. Maka akan timbul rasa
keseimbangan manusia dengan alam.
Alangkah baiknya jika
seluruh dunia melakukan Nyepi. Sekali lagi nyepi ini bukanlah
semata-mata suatu ajaran agama Hindu. Ini adalah suatu kearifan
Budaya Bali, hanya saja dijiwai dengan Agama agar terlihat
kesakralannya. Nyepi adalah suatu konsep keselarasan Manusia dengan
Alam. Siapapun bisa melaksanakan Nyepi. Bukan hanya untuk orang Bali
atau Orang Hindu.
Semoga Damai di hati,
damai di bumi, damai di akhirat.
Moksa
Permasalahan yang timbul adalah semua konsep2 tidak dapat diakomudir oleh pemerintah akibat adanya perbedaan interprestasi, ada yang ingin dalam mengatasi krisis ini melalui pertahap, ada yang menginginkan secara total sehingga dalam implementasinya masih Trail And Error mencoba coba melakukan terapi kira2 mana yang lebih sesuai.Pemerintahan Habibie sudah memberikan kelonggaran2 dalam berbicara karena pada saat orde baru kebebasan berbicara sangat dikekang sampai2 ada semacam anekdot kalau sakit gigi sebaiknya berobat di Singapura, akibat orang tidak boleh buka mulut.
Setelah tumbangnya orde baru masalah kebebasan ini mulai dilakukan oleh pemerintah tahanan2 politik mulai dibebaskan, daerah operasi militer (DOM) mulai dicabut, masalah HAM mulai dipulihkan, kebebasan berserikat mulai dilaksanakan dengan berdirinya banyak partai. Kebebasan adalah hak azasi manusia yang perlu dihormati bagi setiap bangsa, untuk mencapai kebebasan membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit.
Rabu, 26 Desember 2012
Topeng Sidakarya

Dalam sumber tertulis yang mengungkap sejarah Dalem Sidakarya adalah "Lontar Bebali Sidakarya" yang merupakan koleksi dari Ida Pedanda Gede Nyoman Gunung dari Biau, Desa Muncan, Karangasem. Secara ringkas dituturkan bahwa Ida Dalem Sidakarya adalah seorang Brahmana wulaka keturunan sakya dari Keling atau disebut dengan Brahmana Keling. Brahmana Keling ini merupakan putra dari Dang Hyang Kayu Manis yang merupakan nabe dari Ida Dalem Waturenggong yang menjadi raja di Bali yang berkedudukan di Gelgel, Klungkung.
Jumat, 16 November 2012
Doa Sehari - hari Umat Hindu
Doa Sehari - hari Umat Hindu, Lazimnya tentulah dihafalkan. Namun
kalau panjang, apalagi untuk di depan umum, misalnya, membuka rapat/ pertemuan,
mantram ini bisa dibaca dengan memegang buku. Mantram atau doa ini ejaannya
sedapat mungkin mengikuti bahasa Sansekerta justru untuk mendekati pengucapan.
Setiap hurup bergaris kecil di atasnya, dibaca lebih panjang. Misal: à dibaca
aa dan ù dibaca uu. Namun, huruf v (asli) sudah diganti w untuk mendekati cara
bacanya.
Doa
Menjelang Tidur
Om asato mà sat ganaya,
tamaso mà jayatir ganaya,
mrityor màmritam gamaya.
(Ya Tuhan tuntunlah hamba dari jalan yang sesat menuju jalan yang benar, dari jalan gelap ke jalan terang, hindarkanlah hamba dari kematian menuju kehidupan abadi.)
Doa Bangun Pagi
Om Utedànim bhagawantah syàmota
prapitwa uta mandhye ahnam
utodità maghawanta sùryasya wayam
dewànàm sumantau syàma.
(Ya Tuhan Yang Maha Pemurah, jadikanlah hamba orang yang selalu bernasib baik pada hari ini, menjelang tengah hari, dan seterusnya. Semoga para Dewa melindungi diri hamba.)
Doa Mencuci Muka
Om Cam camàni ya namah swàha.
Om waktra parisudahaya namah swàha.
(Ya Tuhan, hamba memujaMu, semoga muka hamba menjadi bersih.)
Doa Menggosok Gigi
Om asato mà sat ganaya,
tamaso mà jayatir ganaya,
mrityor màmritam gamaya.
(Ya Tuhan tuntunlah hamba dari jalan yang sesat menuju jalan yang benar, dari jalan gelap ke jalan terang, hindarkanlah hamba dari kematian menuju kehidupan abadi.)
Doa Bangun Pagi
Om Utedànim bhagawantah syàmota
prapitwa uta mandhye ahnam
utodità maghawanta sùryasya wayam
dewànàm sumantau syàma.
(Ya Tuhan Yang Maha Pemurah, jadikanlah hamba orang yang selalu bernasib baik pada hari ini, menjelang tengah hari, dan seterusnya. Semoga para Dewa melindungi diri hamba.)
Doa Mencuci Muka
Om Cam camàni ya namah swàha.
Om waktra parisudahaya namah swàha.
(Ya Tuhan, hamba memujaMu, semoga muka hamba menjadi bersih.)
Doa Menggosok Gigi
Senin, 12 November 2012
HARI PURNAMA TILEM
Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi
umat Hindu, dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi.
Hari Purnama, sesuai dengan namanya, jatuh setiap malam bulan penuh
(Sukla Paksa). Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu
bulan mati (Krsna Paksa). Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau
29 hari sekali.
Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra, sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya.
Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam Sundarigama yang mana disebutkan:Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra, sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya.
'Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda, makadi, Sanghyang Surya Candra, atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga, yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika, para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana, ngaturang wangi-wangi, canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar, Parhyangan, matirtha gocara puspa wangi"
KAJENG KELIWON
HARI RAYA KAJENG KLIWON
Kajeng
Kliwon is a reocccuring auspicious day for cleansing the mind and the
direct environment of the house compound of negativity. At this day the
Balinese Hindus meditate and pray to Siwa for support and protection
with special offerings.
Kajeng Kliwon
Upacara Kajeng Kliwon diperingati setiap 15 hari sekali yaitu pada saat pertemuan Triwara Kajeng dengan Pancawara Kliwon. Kajeng Kliwon termasuk dalam upacara Dewa Yadnya, Dewa Yadnya sendiri mempunyai arti upacara korban suci/persembahan yang tulus ikhlaskepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dan seluruh manifestasi- Nya.Umat Hindu di Bali mempercayai Kajeng kliwon merupakan hari suci dan keramat yang harus diupacarai. Setiap 210 hari ada hari kajeng Kliwon khusus yang disebut Pemelastali atau Watugunung runtuh.
Kajeng kliwon merupakan hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa yang diyakini pada hari tersebut Sang Hyang Siwa bersemadi. Pada hari kajeng kliwon umat Hindu di Bali menghaturkan sesajen dan persembahan kepada Sang Hyang Dhurga Dewi, sedangkan di tanah, sesajen dan persembahan dihaturkan kepada Sang Bhuta Bucari, Sang Kala Bhucari dan Sang Durgha Bucari.
Puja Trisandhya, Panca Sembah dan Istadewata
Pada umumnya, sebelum melakukan persembahyangan — baik dengan puja Trisandya maupun Panca Sembah — didahului dengan penyucian badan dan sarana persem-bahyangan. Urutannya sebagai berikut:
- Duduk dengan tenang. Lakukan Pranayama dan setelah suasananya tenang ucapkan mantram ini:
Om prasada sthiti sarira siwa suci
nirmalàya namah swàha
Artinya: Ya Tuhan, dalam wujud Hyang Siwa hambaMu telah duduk tenang, suci dan tiada noda. - Kalau tersedia air bersihkan tangan pakai air. Kalau
tidak ada ambil bunga dan gosokkan pada kedua tangan. Lalu telapak
tangan kanan ditengadahkan di atas tangan kiri dan ucapkan mantram:
Om suddha màm swàha
Artinya: Ya Tuhan, bersihkanlah tangan hamba (bisa juga pengertiannya untuk membersihkan tangan kanan).
Lalu, posisi tangan di balik. Kini tangan kiri ditengadahkan di atas tangan kanan dan ucapkan mantram:
Om ati suddha màm swàha
Artinya: Ya Tuhan, lebih dibersihkan lagi tangan hamba (bisa juga pengertiannya untuk membersihkan
MANTRAM PANCA SEMBAH
Urutan-urutan
sembah baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama
yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti di
bawah ini:
|
Selasa, 30 Oktober 2012
Puja Trisandya, Kramaning Sembah, dan Me-Saiban
Puja
Trisandya dilaksanakan tiga kali sehari karena menurut Lontar Niti
Sastra, kita sebagai penganut Hindu Sekte Siwa Sidanta memuja Matahari
(Surya) sebagai keagungan dan kemahakuasaan Hyang Widhi. Matahari juga
sumber energi atau sumber kehidupan.
Pemujaan itu dimulai pagi-pagi
menyongsong terbitnya matahari (sekitar jam 05.30), siang hari tepat jam
12.00 ketika Bumi berada dalam posisi yang menerima panas Matahari
maksimum, dan sore hari ketika matahari menjelang “tenggelam” (sekitar
jam 18.30).
Trisandya terdiri dari dua kata, yaitu
“Tri” artinya tiga, “Sandya” artinya sembahyang. Jadi Trisandya artinya
sembahyang tiga kali sehari. Puja Trisandya diucapkan secara lengkap
keenam baitnya, karena tiga bait pertama adalah puja-puji kepada Hyang
Widhi, dan tiga bait terakhir adalah permohonan ampun dan kepasrahan
kepada-Nya.
Bait pertama disebut Mantram Gayatri,
dapat digunakan dalam waktu sempit/ penting misalnya sebelum berangkat
(starter) kendaraan, ketika akan menyeberang sungai, menjelang, dan
setelah kelahiran bayi, mendoakan orang sakit agar lekas sembuh, dll.
Setelah mengucapkan Puja Trisandya, sembahyang Kramaning Sembah.
Maturan sehari-hari (pagi setelah masak)
disebut me-saiban. Bantennya canang sari berisi semua jenis makanan
yang dimasak hari itu.
Tempat-tempat maturan saiban diatur dalam Manawa Dharmasastra Tritiyo Dhyayah sloka ke-68:
Doa Sehari-Hari Menurut Hindu
Om Swastyastu. Buku ini di-punia-kan kepada umat Hindu di mana pun
berada, sebagai sebuah Jnyana-Yadnya dari kami, dengan harapan dapat
digunakan di saat bersembahyang baik dalam rangka suatu upacara tertentu
maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Kita mengetahui bersama bahwa pada dewasa ini umat Hindu sedang menghadapi tantangan yang cukup berat sebagai dampak pengaruh globalisasi dunia yang tidak hanya menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, maupun budaya, tetapi juga telah memasuki bidang spiritual.
Oleh karena itu umat Hindu, khususnya kaum muda, pelajar, dan mahasiswa perlu mempunyai pegangan yang teguh dalam ke-Hindu-an mereka, antara lain dalam mengucapkan doa, puja, dan mantra yang tepat dan benar.
Dalam hubungan itu, kami dari Lembaga Stiti Dharma, yakni sebuah LSM yang berdiri di Singaraja – Bali tanggal 16 Nopember 2005, berupaya menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk menegakkan Hindu yang kokoh di mana para pemeluknya berpegang teguh pada ajaran Trihita Karana, yakni:
Kita mengetahui bersama bahwa pada dewasa ini umat Hindu sedang menghadapi tantangan yang cukup berat sebagai dampak pengaruh globalisasi dunia yang tidak hanya menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, maupun budaya, tetapi juga telah memasuki bidang spiritual.
Oleh karena itu umat Hindu, khususnya kaum muda, pelajar, dan mahasiswa perlu mempunyai pegangan yang teguh dalam ke-Hindu-an mereka, antara lain dalam mengucapkan doa, puja, dan mantra yang tepat dan benar.
Dalam hubungan itu, kami dari Lembaga Stiti Dharma, yakni sebuah LSM yang berdiri di Singaraja – Bali tanggal 16 Nopember 2005, berupaya menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk menegakkan Hindu yang kokoh di mana para pemeluknya berpegang teguh pada ajaran Trihita Karana, yakni:
- Memelihara bhakti yang luhur kepada Hyang Widhi.
- Menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama umat manusia, melimpahkan kasih sayang, dan mencintai semua mahluk di bumi.
- Memelihara alam dan lingkungan agar tetap lestari.



















